CERPEN, ” BAYANGANMU KEYSHA “

Published Juli 13, 2012 by ANA BUDI WINATA

CERPEN ” BAYANGANMU KEYSHA ”
By : Budi Winoto

Ada yang berbeda dengan diriku.
Kesendirian yang selama ini kujadikan teman mulai terusik. Malam munajat panjang tak lagi indah. Sepi hadir mencekam. Sunyi mendekap. Resah menyergap. Gelap. Aku terpasung dalam kecemasan. Bertarung dengan kesendirian. Hasilnya? Aku terkulai kalah tak berdaya. Keysha! Entah wujudnya
seperti apa. Rupa. Roman senyum
terkulum juga tak bisa kulukiskan sempurna. Aku hanya menangkap aura resah dari desir suaranya. Menikam. Menghujam. Menghentak lebih dalam. Melumpuhkan. Mengoyak ruang maskulinitas. Mengangakan rongga kerontang. Dia membelaiku lewat suara pias yang kutangkap seindah suara. Lalu
aku berfantasi. Menghadirkan sosoknya. Dia mengulum senyum. Sekali mengangkat kepala lalu tertunduk. Mengubriskan ekspresi terindah. Aku terenyuh. Tubuhku bergetar. Hati menggubah berjuta rasa. Jiwa penuh gejolak. Aku tertikam. Terkulai pada hamparan permadani. Lalu setetes air
kehidupan jatuh. Menetes. Ah…! Aku
terbang ke kahyangan. Menggapai-gapai. Keysha! Lirih kusebut namanya. Dia melangkah pergi. Menjauh. Terus menjauh. Aku memburu. Langkahnya terlalu lincah. Keysha telah berubah titik.
Aku masih menangkap sorot matanya menghujam. Dan senyum itu lagi. Aku mendapatinya dalam wujud ekspresi sempurna. Mimpi!

** Cerita utopi telah berlalu. Aku kini
berada dalam alam realitas. Di mana
ada kicauan burung, hembusan angin
terpaan surya, juga belaian embun pagi yang melenakan. Aku masih terkulai lemas di tempat tidur. Saat semua kutemukan nyata. Aku mendapati diriku tak biasa. Basah. Ah…! Alam fantasi telah menikamku terlalu kuat. Sungguh! Aku bergegas. Melangkah gontai ke arah mata air. Sekilas. Semuanya telah tampak biasa Segar. Lalu kekosongan kembali hadir. Batin menuntut fantasi bercerita lagi. Keysha! Aku kembali mengingatnya. Menghadirkan lakon fantasi sebelumnya. Kurasakan dia teramat dekat. Aku terusik lagi. Suara itu? Aku menangkapnya. Jelas! Dia memanggil namaku. Nafas memburu waktu. Jantung berdegup menghentak. Suara itu?
Kembali hadir. Keysha?! Seharusnya
hariku menyenangkan. Harusnya hidup adalah kumpulan ekspresi nurani indah. Tapi aku justru gelisah. Aku ditemani galau. Serupa kegalauan Yusuf mengacuhkan Zulaikhah. Aku bukan Yusuf. Keysha bukan Zulaikhah. Samanya? Aku, mungkin juga dia terjebak takdir dalam ruang rasa yang sama. Kegelisahan itu. Resah itu. Adalah
buah ranum batin yang saling mencari. Aku teringat ritus agamis yang kerap kulakukan. Membaca Quran, dan hal serupa dengan itu. Namun semua terasa menjemukan. Aroma sufistik tak lagi ada. Tak ada yang istimewa. Kehadiran Keysha telah menyuntikkan aroma lain.
Hari menjadi ruang penantian panjang. Aku merindu suara. Suara pias melankolis milik Keysha. Aku hanya bisa menafsir rupa dari tuturnya. Hanya itu yang bisa kulakan. Selebihnya? Berat. Menuntut konsekuensi ruhani yang mungkin memasungku lebih jauh. Menyeret. Menghempaskan. Membakar.
Mungkin lebih dari itu. Memusarakan
namaku di atas ukiran kayu tua lapuk. Sangat mungkin!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: