PERPISAHAN, PERTANYAAN, PERGINYA SEBUAH CINTA

Published Maret 10, 2014 by ANA BUDI WINATA

Perpisahan itu Terasa Menyakitkan Kemana Perginya Cinta

BIARLAH…mimpiku malam ini indah. Walaupun realiti hidupku suram dan gundah. Jika tidak ada cinta yang indah tak mungkin terjadi peristiwa hitam di dalam hubungan kita.

BIARLAH…segalanya yang dulu bermula dan kini harus berakhir. Karena aku sadar kita tiada lagi saling sefahaman, sejalan, setujuan dan sangat jauh dari rasa kasih dan sayang. Apalagi perhatian, kita juga bukan pasangan Suami Istri yang harmonis, mustahil kita akan bersatu. Tuhan tidak menjodohkan kita. Lalu kebencianku padamu juga tertumpah. Dan tak mungkin lagi aku sentuh nafasmu yang dulu kurasakan begitu hangat, menghiasi di seluruh relung qolbuku dan di setiap langkah kakiku. Selamat tinggal sayang….. semoga engkau mendapatkan yang terbaik untuk sandaran hidupmu dan sisa usiamu……”

“Lautan mana yang tidak pernah bergelombang, bumi mana yang tidak pernah basah oleh tetesan air hujan”.

Dalam hubungan suami istri ada kalanya perselisihan, kesalah fahaman, saling berseberangan dalam pola pikir dan mempertahankan ego masing-masing ini lumrah. Sementara lidah terasa tergigit sakit dan keluh mereka tetap masih dalam satu ikatan yang namanya pernikahan/perkawinan, status mereka tetap berlogo “Suami Istri”

Pada kesempatan ini ijinkan penulis berbagi opini kepada para pembaca. Kritik dan saran serta masukan yang membangun sangat penulis nantikan.

“MENANGANI KONFLIK DI AWAL ATAUPUN DI PERTENGAHAN USIA PERNIKAHAN”

” As-salaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh”

Umpama melayari sebuah lautan bahtera rumah tangga, pengemudi atau nahkoda adalah suami. Dan badan kapalnya adalah istri. Supaya boddy kapal dan jalannya tetap stabil serta mampu diajak berlayar dalam bahtera kehidupan berrumah tangga, hendaklah dan seyogyanya sang nahkoda atau suami itu selalu menjaga, merawat dan melindungi serta memenuhi segala bahan bakarnya. Sama-sama saling mengerti bahwa sepanjang perjalanan berlayar di bahtera rumah tangga tentunya akan ada badai rintangan dan aral yang akan menguji perjalanan mereka.

Sehingga selamat sampai ke penghujung perjalanan. Setiap krisis rumah tangga, sama ada besar atau kecil yang namanya perselisihan faham ataupun perdebatan-perdebatan kecil, hendaklah ditangani dan diselesaikan dengan hati yang sabar dan pola pikir yang bijaksana. Saling menimbang rasa dan mengukur kemampuan masing-masing. Ingatlah Allah S. W. T selalu bersama hamba-hamba-Nya yang bersabar. Seperti yang tersurat di surah (Al-Nahl. ayat 126), yang bermaksud :

“Dan apabila engkau bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik”.

Perselisihan yang umumnya terjadi pada pasangan suami istri jika masing-masing bijak mengendalikannya akan memberi peluang untuk kedua-duanya memperbaiki diri masing-masing. Biasanya hubungan kian erat setelah berselisih faham atau pemahaman akan sifat dan  karakter masing-masing. Mungkin dulu saat masih dalam taraf penjajakan atau berpacaran kedua-duanya kurang terbuka akan sifat masing-masing. Alasan ini juga masuk logika, karena rasa takut kehilangan kekasihnya maka sifat yang buruk diantara mereka, sengaja disembunyikan atau ditutup-tutupinya. Dan justru hanya sifat baik, sabar, perhatian dan pengertian yang ditonjolkannya.

Berbeda dengan perselisihan faham atau pertengkaran yang melampaui batas, saling menyalahkan antara satu sama lainnya dan tidak mau ada yang mengalah yang akhirnya membawa bencana. Jangan sesekali menyelesaikan masalah rumah tangga dengan perceraian, seperti yang dilakukan pada kebanyakan pasangan suami istri masa kini. Ingatlah antara perkara yang dihalalkan namun dibenci oleh Allah S. W. T. Ialah “Talak” ini adalah jalan terakhir setelah tidak ada lagi cara lain untuk mengatasinya suatu masalah antara pasangan suami istri tersebut.

ANTARA PUNCAK PERTENGKARAN YANG PERLU DIHINDARI ATAU DIELAKAN OLEH PASANGAN SUAMI ISTRI IALAH :

  1. Berlaku curang dan tidak setia.
  2. Cemburu buta.
  3. Tidak menunaikan perintah agama.
  4. tidak mengajar agama pada istri.
  5. Enggan tinggal bersama suami.
  6. Tidak bersefahaman.
  7. Dingin dan mengelakan hubungan seks suami istri.
  8. Tidak memberi nafkah lahir dan batin.
  9. Saling menyalahkan antara satu sama yang lainnya.
  10. Suka menyakiti hati pasangan masing-masing.
  11. Tidak menghormati pasangan.
  12. Keluar rumah tanpa izin.
  13. Tinggal berasingan (Pisah Ranjang).
  14. Tiada rasa kasih sayang.
  15. Sama-sama tidak memberikan perhatian.
  16. Gagal mendapatkan keturunan (Anak).
  17. Mementingkan kerja masing-masing daripada keluarganya.
  18. Campur tangan orang ke tiga (Bisa dari kedua orang tua masing-masing atau orang lain)

Rasulullah bersabda, yang maksudnya ” Mana-mana istri yang meminta cerai pada suaminya atau suaminya yang menceraikannya (Tanpa alasan yang dibenarkan) maka haram baginya akan bau syurga” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi) Rasulullah S. A. W. juga berpesan kepada kita bahwa pencegahan adalah lebih baik daripada pengobatan. Selami dahulu puncak pertengkarannya, Kaji lebih dalam dulu apa yang menjadi masalahnya sehingga sampai terjadi pertengkaran yang berujung pada krisis perdamaian dan mendorong sifat sampai terucapnya kalimat talak atau perceraian.

Setelah itu berusahalah untuk mencegah dan menghindarinya. Jadilah suami istri yang mencetuskan bibit-bibit kemesraan dan kasih sayang, bukannya mencetuskan pertengkaran dan permusuhan. Selain itu apabila terasa atau merasa hendak bertengkar atau berselisih faham ajaklah hati diri sendiri untuk beristigfar dan baca Taawwuz (Auzubillah…….) Serta doa yang diajarkan Rasulullah S. A. W. iaitu ” Ya Allah! Ampunilah dosaku, hilangkanlah marahku dan jauhkanlah syaitan yang berusaha menggangguku” Boleh juga membaca ayat Qursi dan hembuskanlah kesebelah kiri atau ke arah pundak kiri badan kita yang bertujuan untuk mengusir syaitan yang berusaha ingin menyemarakkan nafsu amarah dan kemarahan di hati kita.

Suami istri hendaknya berusaha untuk mengekalkan rasa cinta, rasa sayang, rasa kasih dan rasa saling menghormati juga memahami seperti saat-saat masa pertemuan pertama kali mereka hingga proses berpacaran atau proses saling menjajaki dan mendalami sifat dan karakter masing-masing hingga berujung pada kecocokkan dan diakhiri dengan PERNIKAHAN / perkawinan.

Selamat membina bahtera rumah tangga dan membangun keluarga yang ” Sakinah, Mawadah, Warrahmah”. Hindari Pertengkaran dan perselisihan faham, buang perasaan kebencian dari hati masing-masing. Sebaliknya wujudkan kasih sayang karena setiap manusia ingin dikasihi dan menyayangi. Untuk mendapatkan kebahagiaan di dalam bahtera Rumah tangga, Amalkan konsep 3B iyaitu “Bicarakan, Bersepakat dan Bertolak ansur” Insya Allah, dan semoga kehidupan berumah tangga kita diberkati oleh Allah S. W. T. akhirrul salam

” As-salaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: